
INDONESIA – Nilai tukar rupiah pada perdagangan Selasa (12/5/2026) pagi, anjlok hingga menembus level Rp15.500 per dolar AS.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp 17.479 per dolar AS, atau melemah 0,37 persen dibanding penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.414 per dolar AS.
Tekanan rupiah kembali berlanjut, sekitar pukul 09.45 WIB, rupiah sentuh level Rp 17.506 atau melemah 0,53%, dan pukul 09.50 WIB melanjutkan pelemahan ke posisi Rp17.508 per dolar AS.
Pakar Ekonomi, Ferry Latuhihin mengatakan, kenaikan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah menjadi salah satu sentimen utama yang membebani rupiah.
Tercatat, harga minyak Brent berjangka yang berakhir pada Juli, patokan minyak global, naik 2,9 persen menjadi USD104,22 per barel.
Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate AS berjangka yang berakhir pada Juni naik 2,8 persen menjadi USD98,03 per barel.
Menurutnya, lonjakan harga energi memperlebar tekanan terhadap kondisi fiskal dan eksternal Indonesia.
“Harga minyak dan fiscal crack kita (membebani rupiah),” ujar Ferry dikutip dari Kontan.
Meski ekonomi Indonesia kuartal I 2026 tumbuh 5,61 persen, pelaku pasar dinilai belum sepenuhnya percaya terhadap data-data ekonomi domestik yang dirilis pemerintah, termasuk angka pertumbuhan ekonomi dari Data Badan Pusat Statistik (BPS).
Ia menyebut, tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut apabila kondisi global tidak membaik dan ketahanan eksternal domestik terus melemah.
Bahkan, Ferry memperkirakan nilai tukar rupiah berisiko menyentuh level Rp 25.000 per dolar AS pada semester II-2026.
